Koronavirus: Penemuan, Perkembangan, Pandemi di Indonesia, dan Dampaknya

Ilustrasi koronavirus

Abstrak

Koronavirus adalah kelompok virus dengan bentuk menyerupai mahkota yang
menyebabkan penyakit pada unggas dan mamalia, termasuk manusia. Namanya
diambil dari bahasa latin corona yang berarti mahkota. Virus ini pertama
kali diisolasi oleh para ilmuwan dalam embrio ayam pada tahun 1937.
Virus ini menyebabkan beberapa penyakit. Virus ini menyebabkan infeksi
saluran pernapasan pada manusia yang tidak terlalu parah seperti pilek,
dan beberapa dapat mematikan, seperti SARS, MERS, dan COVID-19.
Belum ada vaksin atau obat yang dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit yang
disebabkan oleh koronavirus pada manusia. COVID-19 menyebabkan pandemi
pada tahun 2020 dan memiliki dampak yang luar biasa.

Penemuan Koronavirus

Virus ini pertama kali diisolasi oleh para ilmuwan dalam embrio ayam
pada tahun 1937. Pada tahun 1951, Gledhill dan Andrew mengetahui bahwa
koronavirus dapat menyerang tikus dan menyebabkan hepatitis. Kemudian
pada tahun 1965, dua ilmuwan bernama Tyrrel dan Bynoe ketika mereka
menemukan bukti koronavirus yang bernama B814 pada manusia yang
mengalami gejala flu biasa.

Pada akhir 1960-an, Tyrrell memimpin penelitian terhadap turunan
(strain) koronavirus pada manusia dan hewan. Di antaranya termasuk virus
infeksi bronkitis yang ditemukan pada 1937, virus hepatitis tikus pada
1951, dan virus gastroenteritis babi yang dapat ditularkan pada 1946.
Virus-virus tersebut secara morfologis tampak sama melalui mikroskop
elektron. Kelompok virus baru yang bernama koronavirus itu kemudian
secara resmi diterima sebagai genus virus baru.

Kejadian Luar Biasa

Koronavirus memiliki dampak yang sangat besar pada pertanian daripada
manusia pada awalnya, karena sering menginfeksi hewan-hewan ternak yang
menyebabkan kerugian bagi petani. Namun, ketika muncul sindrom
pernapasan akut-berat (Inggris: Severe Acute Repiratory Syndrome, SARS)
yang disebabkan oleh virus pada tahun 2003, koronavirus telah
menyebabkan perkembangan teknologi yang dibutuhkan untuk memahami virus
dan mengembangkan tes atau perawatan diagnostik.

Kejadian luar biasa yang pertama kali disebabkan oleh koronavirus di
manusia adalah SARS pada tahun 2003 Virus yang menyebabkan kejadian ini
diberi nama SARS-CoV. SARS pertama kali dilaporkan sebagai epidemi
pnumonia tidak biasa oleh Pemerintah Tiongkok pada bulan November tahun
2002 di Guandong, Tiongkok. Kejadian tampak muncul pertama kali pada 27
November 2002 saat Jaringan Intelijen Kesehatan Publik Global milik
Kanada menemukan laporan penyebaran flu di Tiongkok melalui pengawasan
dan analisis internet, kemudian mengirimkannya ke WHO. Pada 26 Februari
2003, seorang pria teridentifikasi sebagai kasus pertama di Hanoi,
Vietnam. Pada SARS menginfeksi 8.422 orang.

SARS berkembang dengan lambat dan tergolong penyakit langka. Hingga 31
Juli 2003, terdapat 8.096 kasus dikonfirmasi. Sebanyak 774 dari 8.096
kasus positif meninggal, dengan tingkat mortalitas sebesar 9.6%. Pada 18
Mei 2004, WHO menyatakan Tiongkok terbebas dari SARS tetapi tetap
memperhatikan kemananan biologis.

Kasus kejadian luar biasa berikutnya yang disebabkan oleh koronavirus
adalah sindrom pernapasan Timur Tengah (Inggris: Middle-East
Respisratory Syndrome, MERS) pada tahun 2012 di Arab Saudi. Virus yang
menyebabkan penyakit ini diberi nama MERS-CoV. Gejala yang dialami oleh
manusia yang terinfeksi hampir sama seperti SARS, yakni demam, batuk,
napas pendek, nyeri otot, dan gangguan pencernaan. Meskipun sudah
terjadi delapan tahun silam, kejadian ini masih berlangsung hingga
sekarang. Hingga Januari 2020, penyakit ini menginfeksi 2.506, 862
diantaranya meninggal. Dengan tingkat mortalitas sebesar 34%, penyakit
ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh koronavirus dengan tingkat
mortalitas tertinggi.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada Desember 2013 di jurnal
Eurosurveillance menemukan konsentrasi antibodi MERS-CoV tinggi pada
darah unta dromedari. Studi lanjutan yang dipublikasikan pada April 2014
di jurnal mBrio menunjukkan bahwa terdapat kesamaan urutan gen virus
pada manusia dan unta dromedari. Seorang pria arab juga dikabarkan jatuh
sakit tujuh hari setelah memberikan obat oles pada hidung unta yang
sakit, kemudian ditemukan virus yang sama pada pria dan salah satu
untanya tersebut.

Kejadian luar biasa berikutnya adalah pandemi koronavirus pada tahun
2020 di seluruh dunia. Pandemi ini memiliki dampak yang sangat dirasakan
oleh seluruh penduduk dunia. Pandemi ini diberi nama COVID-19,
kependekan dari coronavirus disease 2019, yang artinya penyakit
koronavirus 2019. Penyakit ini disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang
sebelumnya dikenal dengan nama 2019-nCov (novel coronavirus 2019).
Penyakit ini pertama kali diidentifikasipada Desember 2019 di Wuhan,
Hubei, Tiongkok, Penyakit ini diduga ditularkan oleh kelelawar ke
trenggeling sebelum akhirnya menginfeksi manusia dan menyebar melalui
kontak manusia dengan manusia. WHO mengumumkan penyakit COVID-19 sebagai
pandemi pada 12 Maret 2020. Pandemi ini masih berlangsung pada saat
artikel ini ditulis.

Per 29 Maret 2020, ada 693.282 orang terinfeksi dan sebanyak 33.106
orang meninggal. Penyakit ini mudah menular, terbukti dengan adanya
693.282 kasus positif di seluruh dunia (versi WHO), serta penyakit yang
disebabkan oleh koronavirus dengan tingkat penyebaran paling tinggi.
Tingkat mortalitas sebesar 4.8% menjadikannya penyakit yang disebabkan
oleh koronavirus pada manusia dengan tingkat mortalitas terendah. Di
Indonesia, sebanyak 1.414 terkena COVID-19 dan 122 orang meninggal,
dengan tingkat mortalitas sebesar 8,6%, satu diantara yang tertinggi
sedunia.

Penyebaran COVID-19 ke Indonesia

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengonfirmasi dua kasus pertama
COVID-19 dalam sebuah pernyataan yang ditayangkan di televisi. Menurut
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, pasien terpapar virus dari
seorang Jepang yang terinfeksi di Depok, yang kemudian dinyatakan
positif saat melakukan tes di Malaysia.

Pasien 1 merupakan WNI berusia 31 tahun yang tertular virus setelah
kontak langsung dengan warga negara Jepang dalam acara di klub dansa
Paloma & Amigos di Jakarta. Pasien 2 yang berusia 61 tahun adalah ibu
dari pasien 1. Ibu dan anak ini tinggal di kawasan Depok.

Pada 14 Februari 2020, pasien 1 bertemu dengan teman-temannya di sebuah
pesta dansa yang terdiri dari 50 orang mancanegara. Dia melakukan kontak
dengan salah satu warga negara Jepang yang tinggal di Malaysia.
Kemudian, pada 16 Februari, pasien 1 mengeluhkan batuk, sedikit demam,
dan lemas. Sejak itu, dia berobat rawat jalan dan ditemani pasien 2.
Namun, pada 20 Februari 2020, pasien 2 juga mengalami sakit. Mereka
kemudian memutuskan untuk dirawat di rumah sakit pada 26 Februari 2020.

Setelah itu, pada 28 Februari 2020, teman dansa pasien 1 mengabarkan
bahwa dirinya telah positif COVID-19. Pasien kasus 1 memberi kabar
kepada dokter yang merawatnya tentang hal ini. Dokter kemudian
memindahkan pasien 1 dan 2 ke RSPI Sulianti Saroso. Setelah hasil tes
laboratorium keluar, pasien 1 dan 2 diumumkan positif COVID-19 pada 2
Maret.

Dampak COVID-19 Dalam Berbagai Bidang di Indonesia

Sosial

Kehadiran COVID-19 di Wuhan pada Desember tahun lalu memicu kepanikan di
masyarakat Indonesia. Pada pertengahan Februari 2020, sebuah penelusuran
yang dilakukan oleh South China Morning Post terhadap toko kelontong dan
mal di Jakarta menemukan bahwa seluruh masker wajah, tisu antiseptik,
dan pembersih rumah tangga habis. Sementara itu, para pedagang yang
oportunis menggunakan pandemi ini untuk menimbun masker dan menaikkan
harga jual. Harga masker yang normalnya berkisar antara Rp 30.000 per
boks, sekarang meroket hingga Rp 350.000,00. Polisi telah menindak para
tersangka penimbun.

Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun.
Pemerintah dinilai sangat lambat untuk mempersiapkan diri menghadapi
pandemi ini. Bahkan cenderung menyepelekan pada awalnya. Menteri
Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat bergurau tentang orang Indonesia
kebal COVID-19 karena makan nasi kucing, tetapi malah positif COVID-19
di bulan berikutnya. Kasus pertama di Tiongkok teridentifikasi pada
Januari lalu, sedangkan di Indonesia pada 2 Maret. Jarak waktunya sudah
cukup panjang untuk merpersiapkan diri menghadapi pandemi.

Pemerintah pada akhirnya mengajurkan masyarakat untuk tidak keluar
rumah dan berdekatan secar fisik selama pandemi berlangsung. Anjuran ini
sesuai dengan anjuran yang diberikan oleh WHO untuk memperlambat
penyebaran COVID-19. Akibatnya, sekolah-sekolah diliburkan aktivitas
belajar-mengajarnya di sekolah dan digantikan dari rumah mulai tanggal
16 Maret 2020 hingga waktu yang tidak terkira. Banyak juga perusahaan
yang menyuruh karyawannya bekerja dari rumah untuk meminimalisir
penyebaran penyakit. Hal ini menyebabkan masyarakat terpisah secara
fisik, tetapi terima kasih atas bantuan teknologi, mereka tetap
terhubung satu sama lain.

Kemudian, muncul solidaritas masyarakat untuk menggalang dana ataupun
peralatan perlindungan diri seperti masker, hand sanitiser, dan
hazmat (baju penutup kepala hingga kaki yang dipakai oleh petugas medis) untuk
disumbangkan kepada tim medis yang secara langsung menangani pasien
COVID-19.

Ekonomi

Pandemi koronavirus 2020 melesukan ekonomi secara global. Harga-harga
saham di seluruh dunia mengalami tren penurunan, termasuk yang berada di
Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah bahkan sebelum
konfirmasi kasus pertama di Indonesia. Sebagai respons, Bank Indonesia
memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada 20
Februari. Pada saat WHO mengumumkan pandemi, IHSG jatuh 4,2 persen
menjadi 4.937 ketika sesi Kamis dibuka, level yang tidak pernah terjadi
selama hampir empat tahun terakhir. Pada 13 Maret, perdagangan saham
dihentikan untuk pertama kalinya sejak 2008 karena pandemi.

Pandemi ini juga menurunkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini,
Pemerintah telah membuat kajian dampak ekonomi dan penurunan penghasilan
masyarakat di setiap provinsi berdasarkan skenario ringan, sedang,
hingga buruk. Dalam skenario sedang, pendapatan buruh di NTB
diperkirakan menurun sekitar 25%. Selama orang-orang tidak melakukan
aktivitas keluar rumah dan mobilitas masyarakat menurun, pendapatan
supir angkutan umum dan ojek mengalami penurunan, hingga 44% di Sumatera
Utara.

Selain itu, terdapat kenaikan signifikan nilai tukar dolar AS terhadap
rupiah. Pada 4 Maret 2020, sehari setelah pengumuman pukul 3 WIB, nilai
tukar USD terhadap IDR masih Rp 14111. Namun pada 20 Maret sudah
menyentuh Rp 16.010. Diperkirakan juga akan ada banyak usaha yang gulung
tikar akibat tidak ada pemasukan selama pandemi ini berlangsung.

Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, pandemi koronavirus 2020 menyebabkan beberapa
hal yang dapat mengubah cara mendidik di Indonesia. Pertama-tama,
sekolah-sekolah di daerah yang menyatakan keadaan darurat diliburkan dan
cara ajarnya berganti menggunakan internet. Kedua, Ujian Nasional (UN)
yang sudah sejak dari dulu ada ditiadakan untuk mencegah penyebaran
wabah. Rencana untuk menghapus UN dan menggantinya dengan Asesmen pada
tahun ajaran 20202021 sudah ada sejak Nadiem Makarim menjabat sebagai
Menteri Pendidikan, tetapi maju satu semester akibat wabah COVID-19.
Ketiga, kampus-kampus di berbagai daerah di Indonesia melakukan kegiatan
belajar-mengajar, bimbingan skripsi, hingga sidang skripsi secara daring
melalui panggilan video. Sebuah hal yang tak lazim untuk melakukan
sidang skripsi melalui video, tetapi harus dilakukan untuk terhindar
dari penyakit dan tetap mendapatkan gelar akademis.

Hal pertama dan ketiga bisa saja merubah sistem pendidikan di Indonesia,
yakni dengan mengganti cara mengajar konvensional -di mana peserta didik
berkumpul dalam suatu ruangan kemudian diajar oleh seorang guru- dengan
mengajar melalui panggilan video atau bahkan sebuah forum daring yang
dilakukan dari rumah masing-masing. Akan tetapi, meskipun kegiatan
belajar-mengajar dilakukan dari rumah, tetap ada beberapa guru yang
memberikan tugas tanpa memberikan penjelasan terkait materi terkait pada
tugas tersebut. Hal ini menyebabkan peserta didik tidak paham materi
yang dijadikan tugas, sehingga materi tersebut mudah dilupakan oleh
peserta didik. Sedangkan hal kedua dalam konteks pencegahan penyebaran
COVID-19, hanya berlaku bagi siswa kelas 6, 9, dan 12 tahun ajaran 2019/2020.

Reblog dari https://www.caksono.com/

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*